Kardinah dan Roekmini: Pahlawan Perempuan yang (hampir) Dilupakan

Kardinah dan Roekmini: Pahlawan Perempuan yang (hampir) Dilupakan,Siapa tokoh yang kamu bayangkan ketika mendengar “Pahlawan Perempuan Indonesia”? RA. Kartini? Dewi Sartika? Atau Martha Christina Tiahahu? Oke, itu memang nggak salah, tapi ternyata banyak lagi yang perlu dieksplor dari kata kunci “Pahlawan Perempuan Indonesia”.yang telah kita rangkum dalam Batesmiller

yang disupport oleh Togel Deposit Pulsa Tri 10rb

Selama ini, kita mungkin hanya mengenal sosok Kartini sebagai pahlawan dari Jepara yang memperjuangkan emansipasi perempuan Indonesia. Tapi, apakah kalian udah tahu kalau Kartini nggak memperjuangkan itu seorang diri? Untuk mencapai cita-citanya menaikan derajat perempuan Indonesia, khususnya di tanah Jawa, Kartini mencoba untuk menggebrak dunia baru bersama dua saudaranya. Siapakah saja mereka?

Mereka adalah RA. Kardinah dan RA. Roekmini. Yup, dua perempuan ini adalah adik perempuan dari Kartini. Saking kompaknya mereka bertiga, sampai mendapat julukan “Daun Semanggi” atau “Het Klaverblad” dalam bahasa Belanda, lhoYuk, kenali lebih dalam dua sosok ini.

RA. Kardinah

Kayaknya nama Bu Kardnah nggak asing dehBener banget! Itu karena nama beliau dijadikan nama sebuah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) d Tegal. Berbeda dengan kakaknya, Kardinah lebih memusatkan perjuangannya d kota Tegal daripada Jepara. Lho? Lho? Kok tiba-tiba pindah ke Tegal?

Jadi gini, teman-teman. Setelah menikah dengan Bupati Tegal, Ario Reksonegoro X, Kardnah pun harus mengikuti suaminya pindah. Nah, d sana ia mendirikan sebuah sekolah untuk masyarakat pribumi. Hal ini karena Kardinah nggak puas tuh dengan pemerintah Belanda yang membatasi penddkan kaum pribumi. Fyi, saat itu cuma kalangan atas, terutama laki-laki, yang boleh bersekolah tinggi lho.

Sekolah yang ddrikan Kardnah tepat pada ulang tahunnya yang ke-35 (1 Maret 1916) ini bernama “Sekolah Kepandaian Putri Wisma Pranowo”, Kurang lebih sih sistem pengajarannya sama dengan Sekolah Kartini, yaitu sekolah keterampilan perempuan untuk menjad istri atau ibu yang mapan. Dan, dan, dan, satu yang unik dari sekolah ini adalah karena Kardnah membangunnya dari uang royalti penjualan buku dan tambah beberapa sumbangan lain. Menurut artikel  tirto.id buku yang menuliskan Kardnah adalah buku masakan dan seni membatik, sebanyak masing-masing 2 judul.

RA. Kardinah

 

sekolah kepandaian putri wisma pranowo

Selanjutnya, Kardinah bersama kakak laki-lakinya, Sosrokartono, mendrikan sebuah perpustakaan dari dana swadaya bernama “Panti Sastra”. Sama seperti ketika membangun sekolah, tujuan mulia Kardinah ini dimaksudkan agar siapa saja bisa mencicipi penddikan, terutama bagi masyarakat kelas bawah. Dan hebatnya lagi nih, perpustakaan ini nggak dbangun dengan pembiayaan Pemerintah Belanda lho, teman-teman.

Kemulian beliau nggak cuma itu. Seperti yang disinggung di awal kalau nama Kardinah dijadikan nama sebuah RSUD di Tegal. Jad, pada tahun 1927, Kardinah mendirikan sebuah rumah sakit yang dinamakan Kardinah Ziekenhuis atau Rumah Sakit Kardnah. Latar belakang pendrian rumah sakit itu karena rasa simpatinya pada kesehatan masyarakat miskin d Tegal, Dana pembangunan rumah sakit ini pun dari royalti penjualan buku-bukunya dan dtambah dari hasil penjualan kerajinan tangan murid-murid Wisma Pranowo.

Mulia banget ya Ibu Kardnah.

 

RA. Roekmini

Kardinah dan Roekmini,Nah, teman-teman. Mungkin cerita perjuangan Roekmini agak berbeda dari dua saudaranya nih. Dbandng dengan Kartini dan Kardinah, perempuan yang lahir pada 4 Juli 1880 ini memiliki pribad yang lebih maskulin. Dan karenanya, Roekmini adalah satu-satunya d antara ketiga bersaudara itu yang menikah tanpa lewat perjodohan, padahal mereka bertiga sama-sama menentang sistem feudal dan konservatif masyarakat Jawa.

Karena hobinya adalah membuat kerajinan kayu dan melukis, akhirnya Roekmini membuka sebuah sekolah vokasional atau kejuruan. Nah, ini juga yang membuatnya beda dari dua saudaranya, pola pengajaran Roekmini lebih ke arah praktikal daripada ideal.

Kalau Kardnah membangun masyarakat dengan fasilitas-fasilitas, Roekmini lebih memilih d jalur organisasi. Yup, adk tiri Kartini ini sangat aktif d organisasi dan komunitas yang memperjuangkan hak para perempuan. Ia pernah bergabung dengan organisasi pejuang hak pilih perempuan Eropa bernama Vereeniging voor Vrouwenkiesrecht (VVV). Nggak cuma sebagai anggota biasa, Roekmini bahkan masuk sebagai badan eksekutif sejak Juli 1927 – pertengahan 1931.

RA. Roekmini

Roekmini turut berkontribusi dalam beberapa misi, d antaranya adalah pengajuan proposal pendrian cabang VVV d Kudus pada tahun 1928. Dengan menggunakan nama dari bahasa Jawa “Mardi Kamoeljan” untuk cabang d Kudus, Roekmini berharap perempuan lokal bisa semaju perempuan Eropa. Cabang ini berada d bawah bimbingan dokter lokal, bidan, dan perkumpulan istri pejabat, jadi dharapkan nantinya penduduk lokal bisa lebih siap dalam kesehatan, pertolongan pertama, dan perawatan anak.

 

D tahun yang sama pula, Roekmini bergabung dalam Kongres Perempuan Indonesia d Yogyakarta pada bulan Desember. Bahkan d Kongres Perempuan Indonesia II, ia dpilih menjad perwakilan Indonesia untuk Kongres Perempuan se-Asia i Lahore, Pakistan bersama Sunaryati Sukemi pada Januari 1931. Wah, hebat ya! Ternyata Bu Roekmini adalah salah satu delegasi perempuan Indonesia pertama d pergerakan internasional.

Kardinah dan Roekmini,Tentunya semua prestasi Kardnah dan Roekmini nggak draih dengan gampang. Banyak rintangan-rintangan yang mereka lalui, seperti ketika ayah mereka meninggal d tahun 1905 dan membuat keluarga Adpati Ario Sosroningrat harus kehilangan pengakuan publik. Tapi kenapa mereka tetap berhasil? Kuncinya adalah karena mereka nggak berhenti mencoba dan bekerja keras.